Fenomena Kecebong VS Kampret: Nyinyir Tajam Netizen
Ketika memasuki musim politik seperti sekarang, berbagai hiruk-pikuk menjelang perhelatan akbar tersebut pun terasa begitu panas. Start musim kampanye saja belum dimulai, tapi suhu politik sudah lama terasa memanas. Kalangan elite politik dan pendukung akar rumputnya pun berselisih dengan dukungan yang mereka berikan.
Seperti yang kita rasakan sekarang, keramaian para hatters setiap kubu sudah terasa panas ketika adu argumen di media sosial. Ruang gagasan yang diberikan oleh media sosial telah membuka ruang publik dalam berargumentasi. Seperti yang kita lihat, sekarang masyarakat terbelah dengan kondisi politik kita yang semakin jauh dari norma dan nilai demokrasi santun yang selama ini ada di negara kita.
Istilah “kecebong" dan "kampret” menjadi istilah baru setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Perdebatan yang tak pernah ada habisnya ketika para pendukung setiap kubu bertemu dalam menanggapi suatu isu perpolitikan yang ada.
Bukan adu argumentasi yang berdasarkan fakta dan data, kedua kubu tersebut malah terjebak pada hal-hal yang bersifat nyinyir dan tak jarang masuk kepada lubang saling mencela dan menghasut. Padahal sifat masyarakat Indonesia dalam menghadapi perbedaan pilihan diajarkan untuk mengedepankan attitude dan norma sosial yang selama ini melekat pada bangsa Indonesia.
Wajah muram terlihat dari kondisi netizen Indonesia saat ini, yang entah sejak kapan memunculkan berbagai istilah baru. Ada “Kecebong vs Kampret, “Bani Serbet vs Bani Micin” dan lainnya. Alih-alih digunakan sebagai istilah untuk menggambarkan kalangan lawan politik, hal seperti itu menjadi boomerang, gambaran bahwa bangsa kita sebenarnya belum selesai dalam membentuk manusia yang beradab.
Olok-olokan tersebut menggambarkan bahwa kedua kubu itu sendiri tidak mengenal dunia pendidikan. Istilah yang mereka kira nyinyir berfaedah, tapi membuat orang yang tidak mengetahui istilah tersebut ikut-ikutan dalam melabeli setiap orang yang berbeda pandangan terhadap mereka.
Kebiasaan seperti ini harus diakhiri jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang beradab seperti ideologi negara ini. Permasalahan perbedaan dukungan adalah hal yang lumrah. Jangan hanya karena berbeda, lalu kita singkirkan adab dalam memaknai suatu perbedaan? Bukankah ini tidak adil?
Istilah-istilah “hewan” yang menggambarkan untuk merendahkan orang yang berbeda, tak ada sama sekali dalam nilai-nilai pembelajaran di dunia pendidikan kita. Apakah harus generasi kita diajarkan istilah-istilah nyinyir yang tak bermanfaat seperti itu di dalam kelas mereka? Politik yang seharusnya memunculkan keadilan dan keberadaban dalam hidup bisa ditafsirkan oleh generasi tersebut sebagai suatu hal yang salah.
Setiap polemik di media sosial muncul bagi kalangan yang tidak ikut dalam dunia perpolitikan mungkin sedikit bingung ketika menanggapi suatu peristiwa, seperti contoh ketika ada netizen yang mendukung segala aktivitas presiden Joko Widodo, tapi ada salah satu pihak yang langsung memberikan justifikasi dengan isitilah “cebonger” dalam kolom komentar.
Begitu pula ketika kubu lain yang notabene pendukung Prabowo dijustifikasi “kampret”. Sejak kapan bangsa kita mengajarkan sikap seperti ini? Berbeda dalam pilihan politik bolehlah, tapi jangan sampai meninggalkan akal sehat dalam menanggapi suatu perbedaan yang dipilih oleh orang lain.
Seharusnya kita menjadi warga Indonesia yang mengedepankan adab dalam menghadapi perbedaan, sehingga yang keluar dalam setiap perkataan dan perbuatan bisa manusiawi dan tidak memberikan label orang yang berbeda dengan istilah-istilah seperti di atas. Bangsa kita adalah bangsa yang terdidik.
Bangsa kita juga mengedepankan ketuhanan, hal ini terlihat dari butiran pancasila pertama. Dari berbagai agama yang ada di Indonesia, semuanya mengajarkan kebaikan dan kehalusan dalam segala aspek yang diajarkan. Kalau dalam perspektif agama Islam sendiri melabeli seseorang dengan istilah buruk tidak dibenarkan sama sekali.
Lalu, apakah kedua kubu tersebut yang telah membuat narasi dengan memberikan label “hewan” dan lainnya kepada kubu lawan politik, bisa dikatakan sebagai orang yang beragama? Patut kita renungkan di tengah gejolak kondisi perpolitikan kita hari ini.
Tak usahlah kita terlalu fanatik terhadap suatu hal yang bisa menjadi jurang pemisah kita dalam bernegara. Mencintai boleh, tapi jangan sampai berlebihan dalam mencintai sesuatu hingga kita lupa bahwa kita itu manusia yang tidak diciptakan serasa dan seirama.
Begitu juga dalam membenci. Jangan membenci berlebihan. Hargai perbedaan. Jangan jadikan perbedaan sebagai jurang pemisah. Marilah tetap junjung tinggi toleransi.
Sekali lagi, istilah “kecebong" dan "kampret” merupakan istilah yang buruk bagi bangsa kita. Istilah yang tidak mendidik seperti itu bukan gambaran dari masyarakat Indonesia. Berbeda dalam pilihan boleh, tapi jangan sampai menjadi jurang pemecah keberagaman. Mari kita ciptakan demokrasi yang sejuk dengan wajah santun dan beradab.
_Indah Wulandari_
Tulisan tahun 2018 yang tersimpan
Komentar
Posting Komentar