Menggugat Maman Mahayana: Permasalahan Sastrawan Generasi Facebook yang Tak Kunjung Usai
Kegiatan-kegiatan sastra dalam beberapa tahun terakhir marak berkembang melalui internet, termasuk karya-karya sastra di situs-situs jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter dan sebagainya. Facebook sebuah situs web jejaring sosial populer yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 ini, kerap dijadikan media pengekspresian imajinasi bagi banyak orang. Sebagai media sosial terbuka, Facebook telah mampu mendapat tempat bagi pelaku sastra. Siapa saja bebas menyiarkan karya-karyanya lewat media ini dan setiap orang pun bebas memberikan komentar atau sekadar mengacungkan jempol sebagai bentuk apresiasi terhadap karya tersebut.
Dengan menggunakan fasilitas yang disediakan Facebook, pengguna saling berbagi karya, mengomentari satu sama lain, dan mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan sastra. Media ini memiliki peranan penting dalam menghidupkan karya sastra. Bagi para penulis pemula, media ini bisa dijadikan sebagai sebuah bentuk pencarian jati diri di tengah masyarakat dalam memasarkan karya-karyanya.
Seperti judul di atas mari kita menggugat pernyataan Maman Mahayana. Di awal tulisannya Maman S Mahayana melakukan pernyataan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan: “Keberadaan dan peranan media sosial macam Facebook –juga Whatsapp—membuka jalan lempang bagi kelahiran mereka. Sebagai ”aliran” Facebook, kita dapat mencermati adanya kecenderungan karakteristik yang sama pada karya mereka. Sebagian besar, instan, ahistori, narsistik, tanpa seleksi, tanpa kritik (yang baik). Sisanya: ada juga yang potensial dan bergizi.” Mari kita kupas sedetil mungkin.
Pertama, “Sebagai “aliran” Facebook” kenapa disebut “aliran” Facebook? Bukankah Facebook sama dengan media massa; surat kabar atau majalah; ada pembaca dan penyanggah? Kedua, “kecenderungan karakteristik yang sama” setiap pengguna memiliki karakteristik yang berbeda, bagaimana mungkin Maman berbicara seperti itu jika tidak ada buktinya. Menyamakan semua pengguna di Facebook adalah kesalahan yang fatal. Seharusnya Maman tahu, pengguna Facebook bukan hanya penulis pemula. Bahkan sastrawan seperti Andrea Hirata dan Tere Liye menghiasi sastra di Facebook.
Ketiga, “Sebagian besar, instan, ahistori, narsistik, tanpa seleksi, tanpa kritik (yang baik)” boleh jadi memang benar banyak karya-karya instan yang lahir dari Facebook, tapi bagaimana dengan “ahistori”? tidak semua tulisan dibuat tanpa histori. Apa perlu setiap pengguna Facebook yang ingin menulis sesuatu harus menulis latar belakangnya terlebih dahulu? Pastinya histori tiap penulis disimpan di dalam hati dan jiwanya masing-masing.
Narsistik? Menurut saya, Itu tidak hanya berlaku untuk penulis sastra di Facebook. Penulis media cetak bukankah juga narsis? Ketika karyanya dimuat, ada kebanggaan berlebih. Dia pasti memberikan kabar tersebut ke sanak-saudaranya. Dia mulai merasa sebagai penulis hebat dan tersohor. Selanjutnya, mengelompokkan diri hanya kepada sesama yang tersohor. Dia pun mulai tak menganggap penulis yang masih baru. Bisa saja dia menganggap penulis baru sebagai penulis ecek-ecek atau rendahan. Bukankah itu bagian ciri narsistik: arogan dan egois? Ya seperti itulah, setiap orang memiliki persepsinya masing-masing.
“Tanpa seleksi”, “tanpa kritik (yang baik)” itu? Adakah kritikus untuk karya sastra(wan) di Facebook? Banyak. Para pembaca sesama fecebooker, sesama penulis, dan juga pembaca kritis. Berkualitas? Tergantung. Saya menemukan beberapa teman yang mau memberikan catatan kritis atas karya temannya. Memang tak sepanjang dan setajam kritik di media cetak, tetapi substansinya sudah kritik. Hanya tentu kritikus di Facebook gratis. Namun, jangan lupa, ada banyak antologi karya sastra yang dikumpulkan dari Facebook yang diterbitkan dan kemudian dikritisi.
Selanjutnya, Maman membuat pernyataan kedua yang cukup menarik. “kemunculan sastrawan—juga kritikus (sastra)—sangat ”ditentukan” peran redaktur surat kabar-majalah, kini orang bebas membuat klaim dirinya sebagai apa pun”. Maman mencoba mengajak pembacanya untuk menggunakan surat kabar atau majalah sebagai tolak ukur seseorang untuk menjadi penyair, cerpenis, novelis dan sebagainya, yang mana nasib seseorang tersebut tergantung di tangan redaktur surat kabar atau majalah.
Di sisi lain, apakah karya sastra yang muncul di media koran atau majalah yang mempunyai halaman sastra dijamin lebih berkualitas? Apa karena halaman sastra hanya hadir satu kali seminggu atau sebulan sehingga tak semua karya bisa dimuat kecuali yang lolos seleksi? Apa juga karena media tersebut mempunyai redaksi dan kurator sehingga karya sastranya pasti berkualitas? Atau, apa karena andil seorang kritikus terhadap karya sastra tersebut?
Terlepas dari polemik tentang kualitas, paling tidak, kehadiran Facebook terbukti telah mampu memicu gairah dan tradisi menulis di kalangan pengguna. Bahkan, telah banyak dari mereka mulai tampil dan berkompetisi di berbagai media massa baik lokal maupun nasional. Menariknya, Facebook juga mampu merangsang gairah penerbitan buku-buku sastra meskipun masih terbatas dilakukan sejumlah komunitas. Buku-buku sastra yang lahir dari para Facebooker juga banyak. Ini bukti kredibilitas sastra Facebook. Salah satu buku karya para Facebooker yakni Merah yang Meremah. Buku ini merupakan kumpulan puisi 10 Penyair Perempuan di Facebook.
Penulis kini bebas menuliskan karya puisi tanpa harus terikat serta terjebak dengan "kepentingan" dari media cetak yang memuat karya itu. Bahkan, kemunculan Facebook juga dapat menumbuhkan komunitas-komunitas sastra yang bisa tertarik untuk membuat puisi tanpa harus melalui tangan-tangan editor dan pengoreksi.
Menulis puisi di Facebook saat ini justru lebih menarik, karena setiap puisi yang dimuat di jejaring sosial itu langsung mendapat respon serta komentar dari para pembaca. Dekatnya jarak komunikasi antara penulis dan pembaca di Facebook juga memungkinkan diskusi secara intens, sehingga membangkitkan semangat penulis untuk terus menulis puisi yang lebih baik untuk dimuat.
Keuntungan lainnya dari sastra Facebook adalah secara tidak langsung akan lahir para kritikus sastra yang akan mengasah, menyeleksi secara terus menerus sastra Facebook agar kualitasnya mampu bersaing dengan karya sastra-karya sastra pilihan dalam media massa. Tentu ini tidak bisa lepas dari tangan-tangan dingin para sesepuh dunia sastra.
Jadi, berdebat masalah generasi facebook yang tak kunjung usai ini, pasti ada negatif dan positifnya. Semua hal pasti mengandung dua medan tersebut. Begitu juga dengan Facebook. Facebook hanyalah salah satu bentuk kemajuan teknologi. Kurang bijak rasanya bila Facebook dihindari karena citra miring yang menghinggapinya belakangan ini. Bila disikapi dengan baik, Facebook bisa dimanfaatkan untuk dijadikan media pembelajaran dan pengembangan sastra.
_Indah Wulandari_
Komentar
Posting Komentar